Kanjeng Senopati: Covid Bukan Suatu Wabah, tapi Rekayasa Senjata Biologis yang Diciptakan Elite Global

Kanjeng Senopati: Covid Bukan Suatu Wabah, tapi Rekayasa Senjata Biologis yang Diciptakan Elite Global
Kanjeng Senopati

OPINI

COVID ITU BUKAN SUATU WABAH TAPI REKAYASA SENJATA BIOLOGIS YANG DICIPTAKAN ELITE GLOBAL
-------------------------------------------------------

MEMAMFAATKAN TEKNOLOGI MEDIS SEBAGAI KONSPIRASI JAHAT MANUSIA

LOGIKA PERTAMA
Kalau COVID itu benar-benar Tho'un (wabah penyakit menular). Biasanya wabah penyakit menular itu Allaah turunkan pada saat musim dingin. Kemudian merebak dan mulai menular kemana-mana (setelah musim dingin) yaitu saat masuknya musim semi. 

Nah yang namanya wabah penyakit menular akan hebat-hebatnya siklus penularannya pada musim semi ini (sekitar beberapa bulan). Itulah yang dijelaskan oleh para ulama.

Kemudian wabah (Tho'un) itu akan turun siklusnya menjelang datang musim panas (setelah musim semi masuk musim panas). Musim panas itu akan ditandai dengan bermunculannya bintang-bintang bertebaran di langit, diantaranya akan muncul bintang Suraya. 

Itu menandakan akan datangnya musim panas dan menunjukkan akan berakhirnya wabah menular atau Tho'un dipermukaan bumi ini. 

Maka wabah penyakit itu secara alami akan berhenti berlahan-lahan dan semakin berkurang dan kemudian akan hilang. 

Kemudian setelah musim panas akan datanglah musim gugur dimusim ini semua wabah penyakit menular sudah di sapu bersih. Apalagi jika yang berhubungan dengan wabah VIRUS CORONA seperti virus flu atau influenza otomatis akan mati dan hilang. 

Yang menjadi masalahnya sekarang kenapa musim panas dan musim gugur sudah datang bahkan sudah lewat. Dan munculnya bintang-bintang Suraya pun sudah muncul tapi COVID diberitakan kok belum juga hilang dan lenyap?

Jadi ketahuan disini artinya COVID yang ini memang bukan wabah penyakit menular dan juga bukan dinamakan sebagai pandemi atau wabah Tho'un seperti yang di jelaskan didalam di Al Qur'an dan As Sunnah.

Tetapi COVID ini memang rekayasa manusia itu sendiri buatan manusia yang diciptakan dalam bentuk "racun" sebagai senjata biologis untuk mematikan manusia untuk kepentingan-kepentingan kekuasaan dunia.

LOGIKA KEDUA
Jika COVID ini benar dikatakan wabah virus menular yang mematikan kenapa para korban COVID di Indonesia tidak ada yang meninggal saat mereka berada di rumah-rumah mereka sendiri atau mereka begelimpangan berjatuhan mendadak pas saat mereka kerja di pasar-pasar, di kantor-kantor atau di jalan-jalan seperti yang sering kita lihat di media TV China melihat orang-orang Wuhan yang terkena COVID pada berjatuhan dan meninggal berserakan di jalan-jalan dan dirumah-rumah mereka. 

Coba ada yang bisa menjawab? Apakah ada kasus-kasus para korban di Indonesia yang mati dirumah-rumah mereka atau di tempat jerja mereka karena terpapar COVID? 

Adakah dari mereka yang pada berjatuhan dan meninggal di mall-mall atau dijalan-jalan karena COVID ini? Itu artinya saat media TV China mempublikasikan para korban COVID yang mendadak meninggal di jalan-jalan itu ternyata berita BOHONG alias HOAX. Jangan dipercaya. Itu merupakan propaganda China untuk menakut-nakuti dunia supaya dimunculkan image bahwa wabah COVID ini adalah suatu wabah yang menyeramkan dan mematikan, artinya akan siap di kampanyekan COFID ini keseluruh dunia. Maka berhasilkah China dengan proyek "COVID" ini?

LOGIKA KETIGA
Jika COVID ini benar dikatakan pandemi atau wabah virus menular yang sangat BERBAHAYA dan sangat MEMATIKAN
kenapa orang-orang yang dinyatakan terpapar COVID justeru MATINYA setelah mereka masuk ke rumah sakit baru MENINGGAL. 

Jika COVID ini memang benar dikatakan sebagai wabah virus menular yang mematikan kenapa korban yang meninggal justeru saat di rumah sakit, kenapa tidak saat dirumah-rumah mereka ada yang meninggal karena COVID? Karena kan banyak sekali rakyat yang takut tidak mau dibawa kerumah sakit saat ini karena takut di vonis COVID.

Emangnya si virus COVID itu pilih-pilih tempat ya untuk membunuh pasiennya? padahal yang namanya virus mematikan itu tidak mengenal tempat untuk membunuh pasiennya, benar tidak.

Seharusnya secara logika saja jika ini memang Virus atau wabah pasti saja akan banyak korban yang meninggal di rumah-rumah mereka jika memang ini disebut pandemi wabah penyakit yang berbahaya. Tapi bukti dilapangan tidak ada satu beritapun seorang yang meninggal di rumah karena terpapar COVID. 

Coba anda teliti rata-rata korban yang meninggal dipapar COVID justeru setelah dibawa ke rumah sakit. Ini artinya di rumah sakit itulah sebagai tempat pusat pembantaian senjata biologisnya, apakah pasien ini mau di hilangkan nyawanya atau tidak. Jadi logikanya memang bukan virus COVID yang mengantarkan seorang itu meninggal.

LOGIKA KE EMPAT
IDI (Ikatan Dokter Indonesia) terpecah menjadi DUA kubu. Kubu pertama yang mendukung program COVID yang selalu bekerjasama dengan rezim pemerintah agar kasus COVID terus diperpanjang dan diperbanyak kasusnya hal itu dengan adakan test RAPID TEST dan SWAB dimana-mana ke seluruh masyarakat.

hal ini agar seakan kasus korban COVID nampak terus bertambah dan naik grafiknya. Dan media berita wajib mempublikasikan berita tentang naiknya kasus COVID di media-media TV. Kubu ini termasuk yang mendukung program penjualan jutaan Vaksin. 

Kubu kedua yang menolak keras bahwa sebenarnya kasus COVID ini tidak berbahaya dan terlalu dibesar-besarkan sehingga dana trilyunan kesedot hanya untuk proyek COVID ini. Dan kubu ini menyatakan banyak sekali telah terjadi kasus rekayasa dalam kasus penanganan COVID ini. 

KEBERHASILAN PROPAGANDA ELITE GLOBAL DALAM MENUNGGANGI WHO

Ini sebenarnya sudah lama ada di benak saya tiga bulan setelah ada orang di Indonesia yg dinyatakan COVID. Presiden dan negara dibungkam oleh WHO dengan kucuran UANG.

Bila setiap negara mau mengekspose dan menyatakan setiap orang meninggal karena COVID maka WHO siap mengelontorkan dana segar yg bukan dana hutangan.

Inilah yang menyemangati rezim negara dimana saja utk mengcovidkan warga negaranya sendiri dan menyuntik mati setiap pasien yg masuk rumah sakit dengan dalih terinfeksi COVID.

Dibuat seakan-akan COVID  itu suatu virus yang menakutkan dan MEMATIKAN.
Hal ini memang harus difahami dan disebarluaskan oleh manusia di seliruh dunia.

Tapi kesadaran ini akan pupus manakala rezim sudah menerapkan aturan-aturan yang menjadikan warga negaranya TIDAK bisa merdeka dari skenario jahat Elite Global ini.

Karena setelah negara sendiri dimiskinkan dengan hutang dan lockdown. Maka rezim akan sangat menyambut suka cita dana segar tanpa hutangan kepada mereka.

Indonesia tidak sadar telah berhasil digiring ke dalam lingkaran syetan konspirasi Elite Global para calon pasukan pengikut Dajjal The Illuminiti.

Ini akan terus berlanjut sampai semua manusia di dunia divaksin dan diberi tanda microchip setiap orang yang sudah mendapatkannya.

Bagi yang menolak vaksin tidak akan mendapat microchip ini. Sedangkan nanti sistem microchip akan menentukan semua sendi sendi kehidupan negara. 
Hati-hati dan Waspada Indonesia telah berhasil masuk kedalam rekayasa Propaganda Konspirasi Elite Global.

ANTARA REKAYASA, PENGELABUAN DAN PEMAKSAAN COVID
Rata-rata orang yang yang dinyatakan POSITIF COVID itu setelah di test Rapid Test dan Swab. Jadi masalahnya mereka harus mau dipaksa untuk dinyatakan SAKIT setelah di Rapid Test atau Swab dengan hasil POSITIF. Ini sebenarnya pemaksaan hak seorang supaya seseorang harus di cap sakit. Padahal hakekatnya mereka sehat-sehat saja. 

Inilah fenomenana yang terjadi saat ini rakyat sengaja dibuat bingung, ketakutan dan panik. Apakah rezim pemerintah  tidak melihat rakyatnya banyak yang bertambah menderita ekonominya dan strees dengan dampak dari diterapkannya COVID dimana-mana ini, sepertinya pemerintah tidak akan peduli dampaknya, pemerintah rezim tampaknya lebih peduli dengan program COVID.

Seorang yang sakit bila masuk kerumah sakit resikonya ada dua yaitu di Covidkan atau dibebaskan. Kalau dipapar Covid dia dipaksa harus dikarantina 14 hari. Selama di rumah sakit inilah dia selalu berpikir apakah dirinya hidup atau mati.

Padahal virus COVID itu sendiri tidaklah virus yang mematikan dan ini bukan WABAH. Sebenarnya virus CORONA itu adalah virus Influenza biasa dan virus ini sudah ada sejak lama di Indonesia. 

Termasuk mantan Menkes yang dengan berani membuka persengkolan jahat yang terdapat pada kasus COVID ini. Lebih pantasnya ini bukan "Wabah COVID" tapi ini lebih pantasnya disebut "Proyek COVID". Tapi lalu rezim menagkap dan memenjarakan mantan Menkes tersebut, inilah fenomena pemerintahan kita sekarang orang yang baik-baik banyak yang dipenjara sementara orang-orang penyebar dusta dan perusak negara malah dipelihara di fasilitasi..

Lihatlah sudah berapa ribu rakyat kita yang terbunuh sia-sia karena di cap dan dipapar COVID. Apakah mereka meninggal karena COVID? Ternyata tidak! 

Rezim pemerintah bekerjasama dengan WHO (dan WHO belakangnya dikendalikan oleh EG / Elite Global). Bahwa bila ada korban yang terpapar COVID maka para oknum yang duduk di pusat ini akan mendapatkan gelontoran dana puluhan juta dari setiap kasus COVID atau setiap satu pasien di rumah sakit di seluruh Indonesia. 

Dan apabila korban COVID yang berhasil mati (sengaja dimatikan) maka institusi orang-orang yang dipusat tersebut akan mendapatkan gelontoran dana lebih besar sampai ratusan juta rupiah setiap satu pasien COVID dengan syarat yang mati itu jenazahnya harus di lakukan secara protokoler COVID agar orang-orang mengiranya ini adalah korban COVID. 

Presiden Jokowi dan seluruh para kabinetnya pun hanyalah orang bodoh tidak mengetahui bahwa kasus COVID ini merupakan propaganda konspirasi  EG (Elite Global) China dan Israel dll di balik  permainan kasus COVID ini. USA dan Eropa pun tidak mampu melawannya sampai kewalahan menghadapi propaganda EG ini. 

Mereka hanya dimamfaatkan saja taunya Jokowi dan yang lainnya bahwa COVID ini dipercaya sebagai asli pandemik atau wabah virus yang menular dan berbahaya.

Bila saja virus COVID ini penyebarannya real benar-benar alamiah tidak karena ditambahi unsur rekayasa oleh tangan-tangan manusia jahat maka virus CORONA itu sebenarnya sudah hilang dipermukaan bumi ini saat masuknya musim panas. 

Karena secara sunnatullah atau alami siklus pandemi atau wabah penyakit menular itu akan terangkat dengan sendirinya saat penggantian musim tiba. Tapi kok virus COVID ini malah semakin hari bertambah kasusnya, berarti artinya ini bukan real suatu wabah yang alami tapi penyakit ini memang dibuat oleh tangan manusia itu sendiri.

Tapi ternyata ada tangan-tangan manusia rekayasa jahat yang membonceng dan memamfaatkan virus COVID ini. Sehingga seakan-akan virus CORONA ini adalah virus yang menakutkan dan Mematikan.

Maka sampai kapan rakyat Indonesia terus dibodohi seperti ini. Rakyat terus ditakut-takuti dan terus diserang dengan serangan program RAPID TEST, SWAB dan VAKSIN dari pemerintah agar rakyat yang sehat-sehatpun mudah terpapar POSITIF dan di COVID kan!

KESIMPULANNYA
Virus COVID ini hakekatnya memang Ada bahkan virus COVID ini hakekatnya sudah ada sejak jaman dahulu kala di Indonesia sejak jaman para leluhur kita ada.

Tapi karena adanya tangan-tangan jahat yaitu Propaganda Elite Global (China, Israel dll..) dengan memamfaatkan virus COFID19 ini agar sebagai kambing hitamnya. Maka dibuatlah program "COVID-19". 

Hakekatnya di Indonesia TIDAK ADA Wabah COVID..! Jika memang benar ada maka Wabah sudah akan hilang dan secara alami beberapa bulan lalu dengan penggantian musim.

Tapi kalau "COVID" palsu ini akan tetap selalu ada dan adanya COVID itu hanya ada di RUMAH SAKIT, kenapa? Karena kasus korban COFID 100% setelah dia masuk Rumah Sakit.
Karena disana ada "COVID" yaitu "Senjata Biologis" yang telah berhasil membikin cepat manusia itu MATI

Sampai kapanpun kita Indonesia tidak akan mampu memerangi COVID ini bila hanya dengan metode penerapan kesehatan belaka melalui pemberian vaksin-vaksin, penerapan PSPB, Clockdown, jaga jarak, masker dll. Itu tidak ngefek seditpun, kalau kita tidak menghancurkan langsung biangnya dan kaki tangannya para Elite Global yang telah menciptakan "isu" COVID itu sendiri.

Dan Indonesia termasuk satu-satunya diantara negara di dunia yang hancur luluh lantah terhadap serangan "COVID" ini dan Indonesia negara yang paling berhasil termakan dengan isu COVID ini.

Oleh Kanjeng Senopati

- Analisis Spritualis, Pemerhati Masyarakat & Budaya.