Pertemuan IOTC 2020, Muhammad Zaini: Indonesia Perjuangkan Pengelolaan Perikanan Tuna yang Adil di Samudera Hindia

Pertemuan IOTC 2020, Muhammad Zaini: Indonesia Perjuangkan Pengelolaan Perikanan Tuna yang Adil di Samudera Hindia

JAKARTA - Pertemuan the 24th Session of the Indian Ocean Tuna Commission (IOTC) telah dihelat pada 2-6 November 2020 secara virtual. Sedianya Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan tahunan IOTC ini.

Namun, adanya pandemi Covid-19 maka seluruh rangkaian pertemuan diselenggarakan secara daring. Pertemuan tersebut menegaskan posisi Indonesia untuk berpartisipasi aktif dalam pengelolaan perikanan tuna regional khususnya di kawasan Samudera Hindia.

Beberapa isu penting yang dikawal Indonesia dalam pertemuan tersebut adalah pengelolaan tuna madidihang atau yellowfin tuna. Khususnya terkait implementasi Resolusi 2019/01 On an Interim Plan for Rebuilding the Indian Ocean Yellowfin Tuna Stock in the IOTC Area of Competence serta adanya perbedaan data (data discrepancy) antara data yang disampaikan oleh Indonesia pada laporan tahunan dengan data yang dimiliki IOTC (IOTC Datasets).

Plt. Direktur Jenderal Perikanan Tangkap, Muhammad Zaini dalam arahannya menyampaikan Indonesia perlu meminta klarifikasi dari IOTC terkait penyebab perbedaan data tersebut mengingat data merupakan komponen yang krusial dalam pengelolaan perikanan.

Terlebih lagi, data tersebut akan digunakan dalam penentuan alokasi penangkapan ikan di Samudera Hindia yang saat ini sedang dalam tahap pembahasan kriteria alokasi.

Apabila data tersebut tidak dikawal pengumpulan dan penggunaannya, dikhawatirkan akan merugikan negara-negara anggota IOTC dan tujuan pengelolaan perikanan tidak terlaksana dengan baik.

"Sidang tahunan IOTC akhirnya menghasilkan beberapa kesimpulan terkait penentuan kriteria alokasi dan implementasi Resolusi 2019/01. Hasil tersebut perlu kita kawal dan tindaklanjuti sehingga dapat meningkatkan kepatuhan dan posisi Indonesia dalam pengelolaan tuna khususnya di IOTC, " ujar Zaini dalam keterangannya,  Minggu (8/11/2020)

Ia menilai partisipasi aktif Indonesia pada IOTC sangat penting bagi pengelolaan hasil tangkapan tuna khususnya di kawasan Samudera Hindia.

Hal ini juga sebagai bentuk pengelolaan perikanan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Sementara itu Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan, Trian Yunanda yang menjadi ketua Delri pada sidang IOTC menerangkan hasil pertemuan internasional ini memberi pengaruh yang sangat signifikan bagi keberlanjutan pengelolaan tuna di kawasan Samudera Hindia. Khususnya terkait tangkapan tuna madidihang yang sudah berstatus overfished and subject to overfishing.

"Hasil sidang tahunan IOTC tahun ini memutuskan adanya pertemuan khusus (special session) di tahun 2021 untuk membahas implementasi dan revisi Resolusi 2019/01 karena tahun ini pembahasan tidak dapat dilakukan secara komprehensif mengingat pertemuan dilakukan secara virtual. Selain itu disetujui untuk melakukan tiga kali pertemuan Technical Committee on Allocation Criteria di tahun 2021 untuk membahas kriteria alokasi tuna di Samudera Hindia, " tambahnya.

Ia menerangkan kriteria alokasi diharapkan dapat memenuhi aspek keberadilan (fairness) dan memperhatikan kepentingan developing coastal state. Selain itu juga memenuhi unsur sosial ekonomi dan tingkat kepatuhan negara anggota dan kerja sama non anggota.

Dalam pertemuan ini Indonesia juga menjadi co-sponsor untuk dua proposal yaitu pemilihan Executive Secretary IOTC, Consultation Towards the Development of a Proposal for a Permanent Procedure to Select the Executive Secretary dan Proposal on a Management Procedure for Yellowfin Tuna in the IOTC Area of Competence bersama dengan Australia, Maladewa, Afrika Selatan dan Uni Eropa.

Dalam hal pengelolaan tuna dan spesies sejenis tuna di Samudera Hindia, RFMO (Regional Fisheries Management Organization) yang mengelola adalah IOTC. Indonesia menjadi negara anggota (contracting party) pada IOTC sejak tahun 2007 melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2007 tanggal 5 Maret 2007 tentang Pengesahan Agreement for the Establishment of the Indian Ocean Tuna Commission (Persetujuan Tentang Pembentukan Komisi Tuna Samudera Hindia). Saat ini IOTC terdiri dari 31 negara anggota penuh. (***)

KKP
WARTA.CO.ID

WARTA.CO.ID

Previous Article

Hadapi Potensi Erupsi Merapi, BNPB Tetapkan...

Next Article

Pertamina Sabet Penghargaan Tertinggi di...

Related Posts

Peringkat

Profle

Ratna Palupi

Jus

Jus

Postingan Bulan ini: 7

Postingan Tahun ini: 7

Registered: Mar 2, 2021

Nopri

Nopri

Postingan Bulan ini: 3

Postingan Tahun ini: 27

Registered: Feb 4, 2021

Nisa

Nisa

Postingan Bulan ini: 2

Postingan Tahun ini: 109

Registered: Dec 21, 2020

Heri Nasution

Heri Nasution

Postingan Bulan ini: 1

Postingan Tahun ini: 9

Registered: Nov 28, 2020

Profle

Jus

Ini Cara Kepala DKP Luwu Utara Permudah Pupuk Bersubsidi Bagi Petani Tambak
Kota Masamba Luwu Utara Akan Dirancang Jadi Kota Lengkap Bidang Tanah
Simpan Surga Tersembunyi, Wisata Alam Dengan Nuansa Pegunungan Curup Klawas Ulu Sri Ratu Pekurun Barat
Tenaga Non PNS dan PPPK Dapat Perlindungan Jaminan Kecelakaan Kerja dan Kematian

Follow Us

Recommended Posts

Sambangi Yamaha Sumber Jadi, MUI Kota Pangkalpinang  Tak Dapati Adanya Pelarangan Berhijab Bagi Karyawan
Tanggul Permanen Tiga Sungai Besar di Luwu Utara Mulai Dikerjakan
Polres Bogor Berhasil Tangkap 60 Tersangka Sindikat Curanmor
 Kabidkum Polda Banten Kunjungi Ketua NU Kota Serang
Tongkang Yonglat Yang Kandas di Laut Mentok Buang Muatan Tanpa Izin KSOP

Random Posts